Kamis, 24 April 2014

Penyandang tuli dapat dimungkinkan mendengar lagi

Koklea adalah saluran tulang telinga buatan yang tersedia secara komersial sejak 1970.

"Orang-orang pemakai implan koklea dapat mendengar dan memahami pembicaraan secara baik, tetapi daya tangkap mereka terhadap nada tidak terlalu baik, sehingga mereka seringkali tidak dapat menikmati musik," kata profesor dari Universitas New South Wales, Gary Housley, dalam satu laman internet.

"Oleh karena itu, kami berharap setelah penelitian lebih lanjut ini, orang-orang yang bergantung pada perangkat implan koklea akan dapat menikmati jenis suara dan nada yang lebih luas dan dinamis. Penemuan ini sangat penting untuk membantu pendengaran mereka hingga dapat lebih memahami dunia sekitarnya dan mengapresiasi musik," ujar Housley. 

Penelitian selama lima tahun itu berfokus pada regenerasi sel saraf yang masih bertahan setelah seseorang kehilangan pendengaran akibat pengaruh usia atau lingkungan. 

Dengan menggunakan teknologi implan koklea yang sudah ada, sebagian bes! ar sel indra pendengar dapat dihidupkan kembali dengan memberikan stimulasi listrik langsung ke saraf pendengaran di bagian dalam telinga.  

Suatu hal yang tidak dapat dilakukan implan koklea biasa karena implan koklea saat ini tidak dapat mengembalikan pendengaran normal.

Menurut para peneliti, ujung saraf pendengaran dapat beregenerasi jika neurotropin, yakni zat protein alami yang penting bagi pengembangan fungsi dan kelangsungan hidup sel-sel saraf, dikirimkan ke bagian sel pendengaran di dalam telinga yang dikenal sebagai koklea.

Hingga saat ini, penelitian itu telah terhenti karena penyaluran neurotropin secara lokal dan aman ke koklea tidak dapat dilakukan melalui pemberian obat, maupun dengan terapi gen berbasis virus.

Namun, dalam penelitian baru dengan memanfaatkan kelinci percobaan yang benar-benar tuli, para peneliti mengembangkan cara menggunakan getaran elektrik melalui implan koklea untuk menyalurkan larutan DNA, yang mengandung gen ! faktor neurotropik dari otak, ke sel-sel yang dekat dengan imp! lan elektorode yang ditanamkan tersebut.  

Para peneliti mengatakan, dalam beberapa jam, sel-sel yang ada di dekat koklea mengambil DNA itu dan mulai memproduksi neurotropin.

Para peneliti pun menguji fungsi pendengaran hewan tuli itu dengan menggunakan uji respon batang otak pendengaran, yaitu teknik yang umum digunakan untuk mengukur pendengaran pada bayi yang baru lahir.

Hasilnya, mereka menemukan, hewan yang dulunya benar-benar tuli itu akhirnya kembali memiliki fungsi pendengaran yang hampir normal.

"Tidak ada seorang pun yang pernah mencoba menggunakan implan koklea untuk terapi gen ini. Dengan teknik kami, implan koklea dapat sangat efektif untuk menghidupkan kembali sel-sel pendengaran," kata Housley. 

Source : http://www.antaranews.com/berita/430939/penyandang-tuli-dapat-dimungkinkan-mendengar-lagi

Read more →

Agar Tidur Tak terganggu, Lakukan Ini Saat akan Berolahraga di Malam Hari

Jakarta, Kesadaran akan pentingnya olahraga terkadang membuat orang yang memanfaatkan waktu di malam hari untuk melakukan latihan fisik karena di siang harinya mereka tidak memiliki waktu. Hanya saja, terkadang timbul kekhawatiran bahwa tidur di malam hari bisa mengganggu kualitas tidur seseorang.

Menanggapi hal ini, Dr Stuart Quan, profesor kesehatan tidur di Harvard Medical Cshool dan editor in chief UnderstandingSleep.org menuturkan bahwa olahraga sebelum waktu tidur bisa membuat adrenalin tinggi sehingga otak lebih aktif dan mata sulit terpejam.

Jika Anda memang terpaksa berolahraga di malam hari, Quan menyarankan sebaiknya berilah jeda beberapa jam sebelum Anda pergi tidur. Cara ini bertujuan untuk mengembalikan suhu tubuh dan detak jantung ke tingkat normal.

"Kadar adrenalin dalam tubuh juga bisa lebih stabil sehingga Anda bisa mengistirahatkan tubuh dan bisa merasa ngantuk," tutur Quan seperti dikutip dari ABC A! ustralia, Kamis (24/4/2014).

Meski demikian, sebuah studi tahun 2011 menemukan orang-orang yang berolahraga 35 menit sebelum tidur, kualitas tidur mereka akan lebih baik. Jajak pendapat yang dilakukan National Sleep Foundation 2013 di Amerika terhadap 1.000 peserta menemukan mereka yang berolahraga di siang dan malam hari tidurnya akan lebih nyenyak ketimbang peserta yang tidak berolahraga.

50 persen dari peserta merasakan manfaat ini jika mereka melakukan olahraga secara rutin. Hanya tiga persen dari peserta yang melaporkan olahraga di malam hari membuat tidurnya tidak terlalu nyenyak. Menanggapi hal ini, Quan mengatakan jika memang tak ada waktu, Anda sah-sah saja berolahraga di malam hari.

"Karena ada juga orang yang tidak terlalu suka berolahraga saat hari terang. Bahkan ada yang memanfaatkan waktu siang dengan pergi ke gym. Hal terpenting jangan pernah tinggalkan olahraga dan upayakan melakukannya setiap hari karena bagaimanapun olahraga bisa mem! buat hidup Anda lebih berkualitas,' terang Quan.

(rdn/vit)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

Source : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/39b3e403/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A140C0A40C240C180A1290C25648630C7660Cagar0Etidur0Etak0Eterganggu0Elakukan0Eini0Esaat0Eakan0Eberolahraga0Edi0Emalam0Ehari/story01.htm

Read more →

Kemungkinan Tunggakan Premi, Ini Tanggapan Dirut BPJS Kesehatan

Helmi Ade Saputra - Okezone
Kamis, 24 April 2014 18:12 wib
detail berita
Fachmi Idris (Foto: Helmi/Okezone)
SETIAP peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bukan golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) wajib membayar premi setiap bulan sesuai kelas yang dipilihnya. Namun, bukan tidak mungkin peserta menunggak premi bulanannya tersebut karena berbagai sebab. Lantas, apakah tunggakan premi ini bisa mengancam keberlanjutan BPJS?

Menanggapi kemungkinan persoalan tersebut, Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Fachmi Idris mengatakan bahwa bila mengenai pembayaran premi sudah jelas dalam regulasinya. Setiap peserta berdasarkan regulasi harus membayar premi, dan kalaupun tidak membayar selama beberapa bulan ketika hendak menggunakan kembali layanan JKN harus membayar tunggakkannya.

"Misalnya, saya terdaftar dari Januari kemudian Februari, Maret, April sampai tahun depan tidak membayar premi, lalu begitu akan menggunakannya kembali, maka itu wajib dilunasi sisanya," jelas Fachmi Idris ! di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2014).

Selanjutnya, Fachmi Idris mengutarakan bila prinsipnya pada program JKN peserta yang tergolong mampu harus membayar preminya sendiri. Sedangkan, peserta yang tidak mampu atau masuk dalam golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dibayarkan oleh negara.

"Jadi pada program ini ketika namanya terdaftar, selama dia dianggap mampu dan saat ingin menggunakan tetapi lima bulan sebelumnya tidak membayar, di situ dia akan ditagihkan, ada kewajiban seperti itu," ucap Fachmi Idris.
(tty)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Berita Terkait :

Source : http://health.okezone.com/read/2014/04/24/482/975352/kemungkinan-tunggakan-premi-ini-tanggapan-dirut-bpjs-kesehatan

Read more →

Hari Kartini, Direktur Blue Bird Jadi Sopir Taksi

Berita Terkait

TEMPO.CO, Jakarta - Noni Purnomo, Direktur Utama Blue Bird Group Holding pada 21 April lalu, jadi sopir taksi yang melayani pelanggan taksi Blue Bird selama seharian.

Ia melayani pelanggan taksi di Jabodetabek bersama pengemudi wanita lain, pada perayaan Hari Kartini. "Hari ini pelanggan yang mendapat pengemudi wanita akan mendapat potongan harga khusus," kata Noni saat keluar dari kantor Blue Bird di Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Noni mengaku, tak ada persiapan khusus. Ia malah baru sampai tadi malam dari berlibur bersama keluarga di Disneyland, Amerika Serikat.

"Ini kali ketiga saya jadi sopir taksi," katanya sambil tertawa. Acara ini digagas untuk memotivasi para perempuan Indonesia agar tidak mengukung diri. "Semua profesi sama, terkadang perempuan mengukung dirinya sendiri," kata Noni.

Menurut dia, ada sekitar 100 sopir taksi di Jakarta dengan perbandingan para sopir taksi pria sebanyak 36 ribu. "Kebanyakan ! ibu tunggal yang menjadi sopir taksi," katanya.

Menjadi sopir taksi, perempuan punya fleksibilitas waktu. "Setiap individu itu unik dengan kelemahan masing-masing, baik pria maupun wanita," katanya.

Selain memakai seragam, Noni juga menyiapkan uang kembalian bagi penumpang yang dia bawa di dalam tas. "Ini sekalian komunikasi sama penumpang," katanya.

EVIETA FADJAR

Berita Terpopuler
Daripada Gadget, Widi Mulia Pilih Budaya Bercerita

Source : http://www.tempo.co/read/news/2014/04/23/174572768/Hari-Kartini-Direktur-Blue-Bird-Jadi-Sopir-Taksi

Read more →

Seks Berisiko Meningkat, Menkes Imbau Pria Tanggung Jawab

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengimbau para pria yang melakukan seks berisiko untuk bertanggung jawab atas peningkatan kasus HIV pada anak di Indonesia. Pasalnya, berdasarkan survei Kementerian Kesehatan di 20 kota, tercatat laki-laki yang melakukan seks berisiko atau pergi ke tempat pelacuran dan tidak mau menggunakan kondom meningkat dari 0,1 menjadi 0,7 atau 600 persen.

"Laki-laki supaya bertanggung jawab. Hindari seks berisiko dan semua narkoba khususnya pengguna narkoba suntik," tegas Menkes saat temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (24/4/2014).

Menkes menilai, para laki-laki yang melakukan seks berisiko tersebut sangat rentan menularkan penyakit kepada istri dan anak. Maka itu, pemeriksaan HIV leboh lanjut diperlukan suami istri.

"Periksa, tes HIV. Kalau salah satunya postif, pria harus menggunakan kondom. Karena kalau pria nggak pakai kondom, keduanya bisa berisiko menularkan HIV pada anaknya. ! Selain itu, suami istri yang terinfeksi harus diberi pengobatan kalau tidak ingin anaknya yatim piatu," ujar Menkes.

Menkes kembali menegaskan, himbauan ini diharapkan agar jangan sampai ada satu bayi yang lahir di Indonesia dengan HIV positif. Karena semua bisa dicegah dengan tes. "Kalau sudah terlanjur, beri pengobatan sedini mungkin," jelasnya.

(Abd)

Source : http://health.liputan6.com/read/2041409/seks-berisiko-meningkat-menkes-imbau-pria-tanggung-jawab

Read more →

Penyandang tuli dapat dimungkinkan mendengar lagi

Koklea adalah saluran tulang telinga buatan yang tersedia secara komersial sejak 1970.

"Orang-orang pemakai implan koklea dapat mendengar dan memahami pembicaraan secara baik, tetapi daya tangkap mereka terhadap nada tidak terlalu baik, sehingga mereka seringkali tidak dapat menikmati musik," kata profesor dari Universitas New South Wales, Gary Housley, dalam satu laman internet.

"Oleh karena itu, kami berharap setelah penelitian lebih lanjut ini, orang-orang yang bergantung pada perangkat implan koklea akan dapat menikmati jenis suara dan nada yang lebih luas dan dinamis. Penemuan ini sangat penting untuk membantu pendengaran mereka hingga dapat lebih memahami dunia sekitarnya dan mengapresiasi musik," ujar Housley. 

Penelitian selama lima tahun itu berfokus pada regenerasi sel saraf yang masih bertahan setelah seseorang kehilangan pendengaran akibat pengaruh usia atau lingkungan. 

Dengan menggunakan teknologi implan koklea yang sudah ada, sebagian bes! ar sel indra pendengar dapat dihidupkan kembali dengan memberikan stimulasi listrik langsung ke saraf pendengaran di bagian dalam telinga.  

Suatu hal yang tidak dapat dilakukan implan koklea biasa karena implan koklea saat ini tidak dapat mengembalikan pendengaran normal.

Menurut para peneliti, ujung saraf pendengaran dapat beregenerasi jika neurotropin, yakni zat protein alami yang penting bagi pengembangan fungsi dan kelangsungan hidup sel-sel saraf, dikirimkan ke bagian sel pendengaran di dalam telinga yang dikenal sebagai koklea.

Hingga saat ini, penelitian itu telah terhenti karena penyaluran neurotropin secara lokal dan aman ke koklea tidak dapat dilakukan melalui pemberian obat, maupun dengan terapi gen berbasis virus.

Namun, dalam penelitian baru dengan memanfaatkan kelinci percobaan yang benar-benar tuli, para peneliti mengembangkan cara menggunakan getaran elektrik melalui implan koklea untuk menyalurkan larutan DNA, yang mengandung gen ! faktor neurotropik dari otak, ke sel-sel yang dekat dengan imp! lan elektorode yang ditanamkan tersebut.  

Para peneliti mengatakan, dalam beberapa jam, sel-sel yang ada di dekat koklea mengambil DNA itu dan mulai memproduksi neurotropin.

Para peneliti pun menguji fungsi pendengaran hewan tuli itu dengan menggunakan uji respon batang otak pendengaran, yaitu teknik yang umum digunakan untuk mengukur pendengaran pada bayi yang baru lahir.

Hasilnya, mereka menemukan, hewan yang dulunya benar-benar tuli itu akhirnya kembali memiliki fungsi pendengaran yang hampir normal.

"Tidak ada seorang pun yang pernah mencoba menggunakan implan koklea untuk terapi gen ini. Dengan teknik kami, implan koklea dapat sangat efektif untuk menghidupkan kembali sel-sel pendengaran," kata Housley. 

Source : http://www.antaranews.com/berita/430939/penyandang-tuli-dapat-dimungkinkan-mendengar-lagi

Read more →

Kemungkinan Tunggakan Premi, Ini Tanggapan Dirut BPJS Kesehatan

Helmi Ade Saputra - Okezone
Kamis, 24 April 2014 18:12 wib
detail berita
Fachmi Idris (Foto: Helmi/Okezone)
SETIAP peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bukan golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) wajib membayar premi setiap bulan sesuai kelas yang dipilihnya. Namun, bukan tidak mungkin peserta menunggak premi bulanannya tersebut karena berbagai sebab. Lantas, apakah tunggakan premi ini bisa mengancam keberlanjutan BPJS?

Menanggapi kemungkinan persoalan tersebut, Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Fachmi Idris mengatakan bahwa bila mengenai pembayaran premi sudah jelas dalam regulasinya. Setiap peserta berdasarkan regulasi harus membayar premi, dan kalaupun tidak membayar selama beberapa bulan ketika hendak menggunakan kembali layanan JKN harus membayar tunggakkannya.

"Misalnya, saya terdaftar dari Januari kemudian Februari, Maret, April sampai tahun depan tidak membayar premi, lalu begitu akan menggunakannya kembali, maka itu wajib dilunasi sisanya," jelas Fachmi Idris ! di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2014).

Selanjutnya, Fachmi Idris mengutarakan bila prinsipnya pada program JKN peserta yang tergolong mampu harus membayar preminya sendiri. Sedangkan, peserta yang tidak mampu atau masuk dalam golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dibayarkan oleh negara.

"Jadi pada program ini ketika namanya terdaftar, selama dia dianggap mampu dan saat ingin menggunakan tetapi lima bulan sebelumnya tidak membayar, di situ dia akan ditagihkan, ada kewajiban seperti itu," ucap Fachmi Idris.
(tty)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Berita Terkait :

Source : http://health.okezone.com/read/2014/04/24/482/975352/kemungkinan-tunggakan-premi-ini-tanggapan-dirut-bpjs-kesehatan

Read more →